Anakku Mengompol?



Meskipun di usia 2 tahun syaraf otot springer anus anak sudah matang. Bukan berarti anak bisa terbebas dari masalah ompol. Terkadang secara tidak sadar anak masih mengompol, sehingga membuat ibu marah. Hal inilah yang akan mencederai fitrah anak. Beberapa masalah yang akan timbul ketika anak tercederai:

a. Keras kepala
b. Melakukan sesuatu tanpa memikirkan orang lain (egois)
c. Kikir, karena terdidik menjadi orang yang tidak pernah melakukan kesalahan
d. Anak menjadi malu

Agar anak tidak memiliki sifat-sifat di atas, sudah selayaknya orang tua memberikan respon yang tepat ketika anak mengompol. Sehingga fitrah seksualitas anak dapat dipupuk dan kehidupan seksualitas anak tidak terganggu.

Beberapa tips yang bisa dilakukan ibu ketika anak mengompol:

a. Tidak mengeluarkan emosi negatif

Sebagian orang tua akan merasa sangat kesal ketika mengetahui anaknya mengompol. Kekesalan orang tua akan meluap dengan berbagai manifestasi yang cenderung kepada emosi negatif. Emosi negatif yang sering anak terima akan memberikan manifestasi buruk pada diri anak. 

Anak tidak hanya akan mengalami trauma, anak juga akan memiliki perangai negatif jika hanya ada cercaan pada dirinya. Anak akan mengalami kemunduran mental akibat sering dicerca dan dimarahi. Saat anak ingin buang air, anak cenderung akan malu mengatakan kepada orang tua karena takut dimarahi. Sehingga anak akan mengompol dan hal ini akan terus menerus terjadi pada diri anak karena tidak adanya rasa percaya diri pada anak.

b. Berikan teladan

Memberikan teladan yang baik ketika anak akan buang air menjadi modal awal pembentukan jati diri anak. Selain untuk membentuk rasa percaya diri pada anak, juga akan membantu anak dalam mengenali adab ketika anak buang air.

Memberikan teladan bukan dengan cara anak diikutkan ketika orang tua akan buang air. Tetapi bisa dengan membacakan cerita atau kisah teladan. Ataupun memberikan contoh saat orang tua hendak memasuki kamar mandi sesuai syariat agama. Teladan yang diterima anak akan masuk dan diterima oleh otaknya, sehingga menjadi sebuah sikap dan kebiasaan hingga anak dewasa kelak.

c. Apresiasi anak ketika sudah buang air di tempat yang tepat

Apresiasi yang diterima anak akan mempengaruhi rasa percaya diri yang diterima anak. Saat apresiasi diterima anak, anak akan diakui keberadaannya. Sehingga timbul sikap terbuka, tanggung jawab, dan percaya diri pada anak.

Beberapa ungkapan bisa diberikan kepada anak. Misalnya,
Hebat sekali kamu nak, sudah bisa cebok sendiri di kamar mandi..
Atau
Anakku pintar, besok kalau mau pipis langsung ke kamar mandi ya..

d. Tidak memberikan minuman yang berlebih ketika hendak tidur

Memberikan terlalu banyak minuman kepada anak ketika hendak tidur akan mempengaruhi pola tidur anak karena sering terbangun akibat anak ingin melakukan buang air. Jika anak diberikan minuman manis (seperti sirup atau teh) ketika hendak tidur, anak akan lebih sering melakukan buang air karena kadar glukosa dalam darahnya meningkat. Hingga tak jarang anak akan mengompol di tempat tidur.

Memberikan cukup minuman akan membantu anak dalam proses tidurnya. Air putih menjadi alternatif terbaik minuman yang diberikan kepada anak ketika hendak tidur. Selain itu, jika anak masih belum disapih. Memberikan air putih dapat menjadi pilihan kedua dalam usaha ibu menyapih anak.

e. Membiasakan buang air sebelum tidur/bepergian

Pembiasaan yang dilakukan kepada anak akan membekas di pikiran anak. Sehingga menjadi kebiasaan anak dan akan rutin dilakukan anak. Membiasakan buang air pada anak harus dilakukan sejak dini karena akan terpatri pada diri anak.

Orang tua juga harus memperbanyak diri bersikap sabar kepada anak. Adakalanya anak enggan diajak untuk buang air, sehingga perlu cara jitu untuk meruntuhkan pendirian anak. Orang tua bisa membujuk anak atau berkisah kepada anak. Dan yang terpenting tanpa adanya embel-embel hadiah atau hukuman ke anak.

Comments

Popular posts from this blog

Review: Masker Beras Series Byvazo

5 Area dalam Metode Montessori

Spot Foto Ciamik di Wana Wisata Sreni