Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Upaya Mengenal Diri Sendiri, Merdeka Belajar


Setengah tahun ini adakah yang merasa kebingungan harus mengajar anak sendiri di rumah?

Meski saat pandemi covid-19 ini sistem pembelajaran diganti menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ). Tetapi, beberapa orang tua banyak yang mengeluhkan bingung dan stres menghadapi tugas sekolah anak, terutama untuk orang tua yang memiliki anak usia SD.

Pada dasarnya sendiri, sistem pembelajaran di sekolah lebih banyak menguntungkan bagi anak dengan gaya belajar visual maupun auditori. Berbeda dengan anak yang cenderung memiliki gaya belajar kinestetik, ruangan kelas menjadi batas yang mengekang proses belajarnya.

Adanya pembelajaran jarak jauh seharusnya menjadi kesempatan bagi orang tua untuk menggali lagi diri anak mengenai gaya belajar hingga kecenderungan minat bakatnya. Terlebih bagi anak usia SD, momen ini agar dimaksimalkan karena menjadi masa emas untuk fitrah bakatnya.

Dengan belajar di rumah, sejatinya menjadi momen untuk merdeka belajar. Dalam artian, anak bebas menentukan metode belajar yang diinginkan hingga mengeksplorasi beragam kegiatan yang sesuai dengan minatnya.

Hanya saja, bagi anak yang masih mengikuti sekolah di lembaga formal harus mengikuti kurikulum dan materi yang diberikan oleh gurunya. Meski begitu, anak bebas menentukan bagaimana caranya belajar dengan tetap memperhatikan capaian belajar yang sudah ditentukan sekolah.

Berbeda bagi anak yang menjalani homeschooling, meski adanya libur sekolah karena pandemi covid-19 tidak akan menjadi hambatan. Sistem pembelajaran yang diterapkan masih sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan sendiri dengan tetap memperkaya aktivitas untuk anak.

Bagi orang tua siswa yang ingin memerdekakan belajar anak meski harus menjalani sistem pembelajaran jarak jauh di sekolah, ada beberapa tips yang bisa diterapkan.

  • Eksplorasi materi yang diberikan

Saat PJJ biasanya anak tetap mendapatkan materi pembelajaran dari guru. Meski begitu, biasanya materi yang diberikan hanya sekilas dan anak harus belajar secara mandiri.

Kondisi ini yang bisa dimanfaatkan sebagai salah satu konsep dari merdeka belajar. Anak bisa mengeksplorasi materi yang diberikan sesuai dengan gaya belajarnya masing-masing.

Misalnya, saat belajar konsep gravitasi bumi. Jika anak bergaya belajar visual bisa diperlihatkan video mengenai gravitasi bumi yang ada di YouTube. Untuk anak bergaya belajar auditori bisa didongengkan. Sedangkan untuk anak yang cenderung kinestetik bisa diajak praktik melempar bola ke atas.

  • Tidak terpacu dengan diktat materi

Untuk mengembangkan kreativitas anak, ada baiknya untuk mengembangkan materi yang harus dicapai. Dengan melihat standar kompetensi yang diberikan, mengembangkan materi bisa dilakukan bagi anak yang benar-benar minatnya ada di mata pelajaran tersebut.

Pengembangan materi ini bisa saja dengan melatih secara lebih mendalam dengan soal-soal pengayaan. Selain itu, juga bisa meningkatkan materi yang diberikan satu tingkat di atasnya.

  • Menjadikan belajar serasa bermain

Belajar di rumah selayaknya anak juga harus belajar dengan cara yang menyenangkan. Meskipun pelajaran yang sedang dipelajari anak merupakan pelajaran yang serius. Misalnya saja, eksakta. Orang tua bisa berdiskusi ataupun bermain perumpamaan. Seperti bermain monopoli untuk melatih logika matematika anak.

Dengan belajar seperti halnya bermain akan membuat anak memiliki kesan mendalam terhadap proses belajar anak. Selain itu, kegiatan bermain sekaligus belajar ini juga lebih cepat diserap anak dibanding jika anak harus belajar dengan buku setiap harinya.

  • Memperbanyak aktivitas yang disukai anak

Meskipun anak harus tetap mengikuti kurikulum sekolah dan harus mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, waktu yang banyak dihabiskan anak di rumah ini bisa dimanfaatkan untuk mengasah bakat dan minat anak.

Hal ini tentunya harus dengan pendampingan oleh orang tua. Dan sebaiknya orang tua juga berdialog dengan anak mengenai kegiatan apa yang ingin dilakukannya.

  • Mendampingi anak saat belajar

Meskipun anak belajar mandiri di rumah, tetap harus ada pendampingan dari orang tua. Dengan adanya pendampingan dari orang tua, bonding anak menjadi lebih kuat. Selain itu, orang tua juga bisa mengetahui potensi anak dan keinginan belajar oleh anak.

Dengan memerdekakan cara belajar anak, secara tidak langsung kita sebagai orang tua juga menuntun anak untuk lebih mengenali dirinya sendiri. Selain itu, dengan tumbuhnya fitrah bakat anak, di saat dewasa kelak anak akan lebih mudah untuk menentukan jenis pekerjaan yang diinginkan. Bahkan ketika harus menjalani career break jika menjadi pilihannya.


Artikel ini diikut sertakan minggu tema komunitas Indonesian Content Creator.

Bingkisan 1 - TBM Amanah PKBM Generasi Juara

Pekan 1 kali ini kakak cukup antusias dengan materi yang diberikan. Selain karena sudah terbiasa, juga aktivitas motoriknya membuat tenaganya tersalurkan. Maklum, karena anaknya cenderung kinestetik.

Nah, repotnya jika harus live dan kakak sedang full energinya. Jika umumnya anak bisa diajak duduk sejenak, kakak harus sambil beraktivitas. Jadi, saya sambungkan audionya ke speaker bluetooth agar kakak juga bisa mendengarkan. 

Untuk bingkisannya sendiri, kakak cukup antusias karena berhubungan dengan dapur. Di daerah sini memang masih tabu jika laki-laki harus memasak di dapur. Tapi saya sudah biasakan anak untuk berada di dapur. Meski sekedar ngobrol bareng. 

Biasanya kakak paling antusias untuk kegiatan mengulek. Salah satu favorit kegiatannya adalah mengulek ketumbar.



Pada bingkisan pertama kali ini adalah untuk memotong sayuran. Kakak sendiri sering memotong frozen food sejak usia 3 tahun. Saya sengaja membuat pisau agak tumpul agar tidak melukai kakak saat memotong makanannya. 




Untuk sayurannya sendiri, kebetulan sayurannya agak keras. Jadi, kakak agak kesulitan untuk memotong, karena pisaunya juga gak begitu tajam. Nah, jadilah kemudian memotong terong yang sudah saya kupas kulitnya terlebih dahulu. Meski begitu, untuk memotong sosis kakak sudah cukup 'fabolous, fabolous', seperti yang dikatakan Jarjit.



Lanjut untuk memetik sayuran juga cukup ahli si kakak. Biasanya saya sering mengajak kakak untuk memetik kangkung dan disimpan di kulkas. Tapi kali ini yang dipetik adalah bayam dan semuanya diselesaikan kakak dengan baik. Meski bisa memetik sayur satu per satu, kakak memiliki cara alternatif untuk bisa memisahkan daun dan batangnya dengan cepat. Katanya sih biar gak terlalu lama, apalagi jika sayurannya cukup banyak untum dipetik.



Memang, untuk aktivitas di dapur harus dengan pengawasan orangtua. Meski begitu, banyak hal yang bisa dipelajari anak saat membantu orangtuanya di dapur.

Tak hanya untuk melatik motorik halus anak. Di dapur, anak juga bisa belajar mengenai matematika hingga belajar bentuk dan warna.

Yang terpenting, anak dalam keadaan yang aman. Sehingga anak bisa terhindar dari kecelakaan yang bisa terjadi di dapur.

Madsaz, Aplikasi Penerjemah Tangisan Bayi



Bagi seorang bayi, menangis menjadi cara berkomunikasi yang bisa dilakukannya. Tetapi ternyata anggapan masyarakat yang mengatakan bahwa saat bayi menangis,  bayi dianggap sedang lapar dan perlu disusui.

Pada kenyataannya, bayi yang menangis tidak hanya karena rasa lapar. Ada beberapa hal lain yang menjadi penyebab bayi menangis.

Perkembangan teknologi yang semakin maju membuat banyak terobosan yang memudahkan kehidupan seseorang. Salah satunya adalah adanya pendeteksi tangisan bayi

Aplikasi Madsaz




Aplikasi Madsaz menjadi sebuah terobosan bayi ibu yang ingin mengetahui arti dari tangisan sang bayi. Aplikasi ini dikembangkan oleh Medhanita yang sudah melakukan riset mulai dari skripsi hingga jenjang magisternya.

Untuk mengujinya, mbak Medha mencoba kepada keponakan dan beberapa teman yang memiliki bayi.

Dalam aplikasi ini terdapat 5 jenis tangisan bayi:

1.  Neh berarti lapar
2. Owh berarti bayi mengantuk
3. Eh berarti bayi ingin bersendawa
4. Eairh berarti perut bayi kembung
5. Heh berarti bayi sedang tidak nyaman (udara panas, popok basah).

Dulunya aplikasi ini mulai dikembangkan tahun 2013 dengan versi dekstop. Hingga kemudian di bulan Oktober 2018, aplikasi ini sudah ada versi Android yang kini sudah diunduh oleh beberapa penggunanya di dunia.

Untuk mempermudah penggunanya, aplikasi ini sudah memiliki fitur bahasa, yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. selain itu, hanya ada 1 fitur yang berfungsi untuk merekam tangisan bayi beserta analisisnya.



Dari hasil penggunaan aplikasi Madsaz selama kurang lebih 3 bulan ini, saya cukup puas dengan analisanya. Saya sendiri sambil mempelajari arti dari tangisan bayi menggunakan aplikasi ini. Dan ternyata cukup mudah jika mengerti kunci dari tangisan bayi.

Secara penggunaannya, aplikasi Madsaz ini cukup simpel. Hanya tinggal membuka aplikasi dan tekan tombol REKAM. Tak perlu waktu lama, maka arti dari tangisan bayi akan keluar.

Dengan sistem kerja yang cukup sederhana ini saya tidak perlu repot saat bayi menangis dan ingin mengetahui arti tangisannya.

Hanya saja, aplikasi ini hanya bisa digunakan sampai usia bayi 3 bulan saja. Tetapi, cukup membantu bukan bagi ibu baru? 

Tips dan Kiat Mengasuh Anak untuk Ibu Pekerja


Sumber Gambar : Pixabay

Bunda kebingungan untuk mengatur waktu antara bekerja dan anak? Ternyata, meski Bunda harus bekerja di luar rumah, Bunda bisa memanfaatkan waktu yang ada untuk lebih maksimal dalam mengasuh anak. Nah, berikut ini tips dan kiat mengasuh anak untuk ibu pekerja.

Tidak dapat dipungkiri bahwa tidak semua wanita akan fokus mengurus rumah tangganya. Ada sebagian wanita yang memilih untuk bekerja dengan alasan yang beraneka ragam. Jika Bunda memilih bekerja di saat sudah memiliki anak, Bunda tetap bisa mengasuh anak dengan maksimal agar anak semakin dekat dengan Bunda.

Tips Mengasuh Anak Bagi Ibu Pekerja


Meski Bunda bekerja, bukan berarti Bunda tidak bisa dekat dengan anak karena kurangnya waktu bersama anak. Bunda tetap bisa mengasuh anak dan dekat dengan anak saat berada di rumah. Agar lebih optimal dalam mengasuh anak, Bunda bisa melakukan cara berikut ini yang akan membuat ikatan Bunda dan anak semakin kuat.

1. Luangkan Waktu 


Agar bonding Bunda dan anak tetap kuat, ada baiknya Bunda banyak meluangkan waktu untuk anak. Memang setelah bekerja Bunda merasa capek. Hal tersebut jangan jadikan alasan Bunda untuk tidak menemani anak.

Meskipun setelah bekerja badan terasa lelah, melihat anak bisa membangkitkan semangat Bunda untuk menemani aktivitas anak. Bunda bisa membacakan buku ataupun menemani belajar anak sebelum beristirahat.

2. Optimalkan Waktu Saat di Rumah


Ketika Bunda berada di rumah karena sedang libur, hindari untuk bermalas-malasan dan menghindar dari anak. Melakukan aktivitas bersama bisa Bunda lakukan bersama anak, misalnya bersih-bersih rumah ataupun memasak bersama. 

Saat pulang kerja pun, meskipun Bunda memiliki waktu yang tak banyak dengan anak, Bunda bisa mengoptimalkan waktu dengan beraktivitas maupun bercerita. Meski sepele, hal ini akan menjadi kenangan tersendiri di benak anak.

3. Ajak Anak Berlibur


Berlibur bisa menjadi penghilang stres untuk Bunda dan anak-anak. Memanfaatkan waktu liburan kerja bisa menjadi waktu yang tepat untuk keluarga Bunda berlibur. Tak perlu jauh-jauh untuk pergi liburan bersama anak. Meski hanya bermain di taman bisa menjadi penghilang stres yang ampuh dan memperkuat bonding tanpa harus mengeluarkan banyak uang.

4. Berikan Kasih Sayang


Hal terpenting yang harus Bunda berikan kepada anak adalah kasih sayang. Agar kasih sayang yang Bunda berikan tepat, ada baiknya Bunda memahami bahasa cinta anak terlebih dahulu.

Tips di atas hanya sekilas ya Bunda. Jika Bunda punya tips lain, bisa memberikan tips lain di kolom komentar.

Penting Bagi Orang Tua Mengajarkan Kegagalan pada Anak



Kegagalan merupakan hal yang lumrah terjadi pada setiap fase kehidupan. Tak terkecuali para anak-anak yang tak luput dari kegagalan atas apa yang dialaminya. Agar anak tak putus asa dan tetap percaya diri terhadap kegagalan yang dialaminya, penting bagi orang tua mengajarkan kegagalan pada anak.

Meski pada dasarnya mendidik anak harus diberikan kasih sayang, bukan berarti Anda harus terus-menerus memberikan pujian kepada anak. Ada baiknya pula Anda juga memberikan pengertian tentang arti kegagalan kepada anak.

Pentingnya Mengajarkan Kegagalan pada Anak

Kegagalan bukanlah hal yang menakutkan bagi anak. Anda bisa mengajarkan arti kegagalan pada anak karena dapat bermanfaat bagi kehidupan anak. Selain berguna untuk kehidupan anak sekarang, jika anak mampu menerima kegagalan yang dialaminya akan menjadi prinsip hidup yang akan bermanfaat untuk kehidupannya di masa mendatang. 

Proses untuk mengajarkan kegagalan memang bukanlah hal yang instan. Tetapi, ketika Anda mampu dan anak bisa menerima kegagalan, tentu saja akan memberi pengaruh besar pada kehidupan anak. Berikut ini manfaat mengajarkan kedisiplinan pada anak:

1. Anak Tak Mudah Putus Asa

Ketika anak mampu menerima kekalahan, anak tidak akan berputus asa terhadap kegagalan yang diterimanya. Anak akan terus berjuang dengan gigih terhadap apa yang ingin dicapainya. Anda bisa mengajak anak mencari penyebab kegagalan tersebut dengan harapan anak mampu belajar dari sebab kegagalan yang dialaminya.

2.Anak Tetap Optimis

Saat anak mengalami kegagalan, anak akan belajar lebih banyak untuk menganalisis penyebab dari kegagalan tersebut. Dengan mengetahui kesalahan yang telah dilakukannya tersebut, anak akan belajar mengenai pemecahan masalah. Hasil belajar inilah yang akan membuat anak lebih optimis. Ada baiknya Anda tetap mendampingi anak hingga berhasil dengan apa yang diinginkannya tersebut, sehingga penting bagi orang tua mengajarkan kegagalan pada anak.

3. Anak Menjadi Lebih Percaya Diri

Dengan mengetahui kekurangan yang menyebabkan dirinya gagal, anak akan introspeksi diri. Anak tidak akan lagi mengulang kesalahan yang sama. Anak akan belajar lebih banyak tentang bagaimana usahanya untuk meraih keberhasilan. Hal inilah yang akan membuat anak lebih percaya diri terhadap apa yang dilakukannya, karena anak sudah mengetahui kesalahan yang membuatnya gagal.

Anda bisa memberikan solusi kepada anak. Solusi yang Anda berikan bisa menjadi masukan untuk menjadi usaha untuk memperbaiki kesalahan atas kegagalannya.

Tips Mengajarkan Kegagalan pada Anak

Agar anak bisa menerima kegagalan, Anda harus berperan aktif dalam mengajarkan nilai-nilai positif agar anak tidak terus-menerus meratapi kegagalan. Nah, berikut ini tips yang bisa Anda berikan kepada anak agar anak mau menerima setiap kegagalan dari usahanya tersebut.

1. Memberikan Teladan

Sebagai orang tua, Anda harus memberikan teladan yang baik untuk anak. Hal ini dikarenakan anak akan meniru apa yang dilakukan orangtuanya. Anda bisa menunjukkan sikap seorang ksatria saat Anda mengalami kegagalan. Hindari menunjukkan rasa stres saat Anda mengalami kegagalan.

Anda bisa menunjukkan usaha Anda untuk memperbaiki kesalahan. Dengan melihat usaha yang Anda lakukan akan membuat anak mengerti sikap yang harus dilakukan ketika anak mengalami kegagalan.

2. Amati Sikap Anak

Saat anak mengalami kegagalan, Anda bisa mengamati apa yang anak lakukan. Jika anak merasa kecewa, hal tersebut normal terjadi. Tetapi jika sikap anak membuat anak menjadi stres, Anda perlu memotivasi anak untuk menerima kegagalan dan berusaha memperbaiki kesalahannya.

Anda bisa berbicara kepada anak tentang perasaan anak saat mengetahui kegagalannya. Sebelum Anda berbicara kepada anak, ada baiknya Anda memberikan waktu kepada anak untuk berdiam diri agar anak mampu menerima kegagalan.

3. Beri Waktu dan Ruang Anak Bereksplorasi

Saat anak mengalami kegagalan, Anda bisa memberikan ruang untuk anak mencari tahu penyebab dari kegagalan. Anda bisa mendampingi jika anak menginginkan masukan dari orangtuanya. Hindari memberikan pengarahan kepada anak agar anak lebih percaya diri terhadap apa yang dilakukannya.

Kegagalan merupakan proses belajar anak dalam meraih kesuksesan. Selain bermanfaat bagi perkembangan anak, anak akan menjadi pribadi yang lebih positif dalam menghadapi sebuah masalah dalam kehidupannya. Untuk itulah penting bagi orang tua mengajarkan kegagalan pada anak agar anak menjadi lebih tangguh dan gigih.

Agar si Kakak tidak Cemburu pada Adik



Siblings rivalry menjadi salah satu momok bagi para orang tua yang sedang memiliki anggota keluarga baru. Terlebih jika usia snag kakak tidak terpaut jauh dengan usia adik yang baru lahir. Meski banyak orang tua yang mengeluhkan kondisi seperti ini, ternyata ada beberapa cara yang bisa orang tua lakukan agar kondisi ini tidak berlarut-larut, bahkan hingga dewasa.

Melibatkan Sang Kakak dalam Perencaan Kehamilan

Untuk mengetahui apakah kakak sudah siap memiliki seorang adik adalah dengan melibatkannya dalam perencanaan kehamilan. Orang tua bisa menanyakan kesiapan sang kakak untuk menerima anggota keluarga yang baru.

Melibatkan Kakak dalam Memeriksakan Kandungan

Setelah ibu dinyatakan positif hamil, ibu bisa mengajak kakak untuk bersama-sama memeriksakan kandungan. Beri pengertian kepada kakak bahwa di perut ibu sekarang ada adik bayi yang nantinya akan menjadi anggota keluarga baru di rumah. 

Melibatkan Kakak dalam Membeli Perlengkapan Bayi

Belanja menjadi salah satu kegiatan yang mengasyikkan. Selain itu, ternyata belanja bersama kakak bisa menjadi bondong tersendiri bersama sebelum si adik lahir. 

Apa Beda Sistem Montessori di Indonesia dan Luar Negeri?

Siapa yang tak mengenal metode montessori? Metode pembelajaran untuk anak usia dini inilah yang dulunya diterapkan oleh Maria Montessori, seorang dokter wanita pertama di Prancis yang berhasil mendidik anak-anak normal hingga berkebutuhan khusus. Tak hanya di negaranya saja metode ini bisa berkembang. Bahkan di seluruh dunia kini banyak yang mengadopsi sistem ini untuk dikembangkan di dunia pendidikan anak usia dini.

Meskipun metode pendidikan ini sudah lama berkembang di negara-negara lain. Di Indonesia justru metode ini baru booming di abad ke-21. Memang cenderung agak telat dibandingkan dengan negara lain. Tetapi ternyata beberapa sekolah anak usia dini sudah menerapkan sistem ini. Bahkan di Indonesia sendiri sudah banyak ahli Montessori yang siap mengembangkan metode ini ke seluruh wilayah Indonesia.



Meskipun untuk menempuh pendidikan montessori ini memerlukan biaya yang tak sedikit. Ternyata banyak ibu-ibu di Indonesia yang sudah mengikuti pendidikan dan lulus. Meskipun beberapa bulan tenaga pendidik anak usia dini di lembaga pendidikan, ilmunya sudah ditularkan dan dipraktikkan sendiri kepada sang buah hatinya.

Karena mahalnya pelatihan metode montessori mengakibatkan sekolah yang menggunakan sistem ini memungut biaya yang cukup besar. Bahkan untuk bisa bersekolah di lembaga yang menerapkan sistem montessori, orangtua harus merogoh kocek yang besarnya melebihi jika sang anak harus menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Meski mahalnya pendidikan montessori di Indonesia, ternyata metode ini mampu memberikan dampak kepada anak. Misalnya, anak menjadi lebih mandiri, kreatif, dan orang tua juga mampu melihat potensi anak sejak dini.

Selain mahalnya pendidikan montessori, aparatus yang digunakan dalam sistem ini juga harus memenuhi standar. Hal ini juga yang membuat mahalnya biaya pendidikan montessori karena aparatus yang digunakan pun memiliki harga selangit.

Meskipun begitu, metode ini bisa dianggap sebagai metode yang paling ramah anak dan bisa digunakan untuk seluruh anak dunia, tak terkecuali untuk anak berkebutuhan khusus.

Mengembangkan Kemampuan Literasi Anak Sejak Dini



Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, literasi merupakan kemampuan membaca dan menulis. Hanya saja makna literasi ini bukan hanya sekadar seseorang memiliki kemampuan melafalkan alfabet dan menuliskan huruf demi huruf menjadi sebuah kata. Tetapi kemampuan literasi seseorang juga mengenai bagaimana kecintaan seseorang terhadap dunia literasi yang membuatnya tak merasa bosan dan terbebani ketika diminta untuk membaca buku ataupun menuliskan sebuah ide.

Bermula dari Keluarga


Koleksi Buku Anak
Sumber Gambar : Dokumen Pribadi

Kecintaan literasi sebaiknya ditumbuhkan mulai dari lingkup terkecil, yaitu keluarga. Dari sinilah, karakter seseorang terbentuk. Jika sejak dini, seseorang sudah dikenalkan dengan dunia literasi, maka untuk menumbuhkan kecintaan terhadap dunia literasi di masa mendatang bukan menjadi sebuah tren saja.

Anak, menjadi salah satu individu yang harus ditumbuhkan kecintaan terhadap dunia literasi sejak dini. Selain dapat bermanfaat untuk kehidupannya kelak, anak yang sudah mulai mencintai literasi sejak dini dapat membantu mengembangkan sel-sel otak yang sedang berkembang.

Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa membacakan nyaring pada anak bisa dimulai sejak anak masih dalam kandungan. Selain bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasinya kelak saat sudah dilahirkan, membacakan nyaring sejak dalam kandungan dapat meningkatkan bonding anak kepada orang tuanya.

Hal ini tentu saja harus dilakukan ketika anak sudah dilahirkan. Meskipun di usia balita anak belum mampu membaca sendiri, orang tua bisa memfasilitasinya dengan membacakan nyaring kepada anak. Manfaat membacakan nyaring untuk anak tentu saja akan sangat berpengaruh untuk menumbuhkan kecintaan anak pada dunia literasi.

Bukan Hanya Sekadar Bisa Membaca

Pada dasarnya ketrampilan berbahasa anak bisa didapatkan secara bertahap. Hal pertama yang perlu dibangun adalah ketrampilan mendengarkan (listening skill). Ketrampilan mendengarkan ini bisa dimulai saat anak berada di dalam kandungan. Hal ini dikarenakan ketika anak berada dalam kandungan, sel-sel syaraf pendengaran anak mulai terbentuk. Anak sudah bisa mendengarkan dunia luar melalui perantara air ketuban. Dengan mengembangkan ketrampilan mendengarkan saat anak dalam kandungan menjadi tahap pertama ketrampilan berbahasa anak.

Tahap kedua adalah ketrampilan berbicara. (speaking skill). Ketika anak sudah banyak distimulasi pendengarannya, maka kosa kata yang diperoleh anak menjadi lebih banyak dibandingkan dengan anak yang diasuh tanpa diajak berkomunikasi. Ketrampilan berbicara anak yang sudah distimulasi sejak dini inilah yang juga menghindarkan anak dari risiko keterlambatan berbicara anak.

Tahap ketiga adalah ketrampilan membaca (reading skill). Ketrampilan membaca anak bisa dilatihkan ketika kemampuan kognitif anak untuk mengenal huruf sudah terbentuk. Salah satu indikator anak yang sudah bisa dilatih membaca adalah anak mampu membedakan ukuran, warna, maupun bentuk. Memang tidak ada patokan usia dimulainya anak belajar membaca, tetapi ada anjuran untuk menunda melatih membaca anak ketika anak masih balita.

Tahap terakhir adalah ketrampilan menulis (writing skill). Diharapkan ketika anak sudah memiliki kemampuan membaca, anak mampu menuliskan ide-idenya. Jadi ketrampilan menulis bukan hanya anak mampu menulis kata yang diinginkan. Tetapi lebih kepada sebuah karya atau tulisan dari ide-idenya.

Mengembangkan Kecintaan Anak pada Dunia Buku

Buku menjadi salah satu sumber literasi abadi yang bisa diakses dimanapun. Beragam jenis buku pun bisa diakses, baik dalam bentuk fisik maupun digital.

Pengenalan buku kepada anak pun tidak harus menunggu anak sudah mampu mengeja kata. Mengenalkan buku kepada anak sudah bisa dimulai sejak anak dilahirkan. Hingga sekarang pun beragam jenis buku sudah diterbitkan dan disesuaikan dengan usia anak.

1. Buku High Contrast

Buku high contrast merupakan buku dengan warna hitam putih yang disesuaikan untuk bayi 0-3 bulan. Meskipun bukan buku full colour, buku jenis ini mampu menstimulasi indera penglihatan anak.

Sumber Gambar : Rabbithole.com


2. Board Book

Board Book merupakan buku dengan bahan duplek yang cukup tebal, sehingga aman dari robekan anak. Jenis buku ini bisa dikenalkan kepada anak sejak bayi hingga bisa digunakan anak ketika anak sedang belajar membaca. Selain bahannya yang tebal, jenis buku ini memiliki dominasi gambar yang lebih dibanding dengan tulisan. Sehingga anak tidak hanya distimulasi kecintaannya pada buku saja, tetapi juga untuk melatih daya imajinasi melalui gambar yang tersedia.


Sumber Gambar : Dokumen Pribadi


3. Buku Bantal

Buku bantal atau buku kain merupakan jenis soft book yang biasanya berisi pengenalan sebuah obyek. Jenis buku ini aman dipakai untuk bayi hingga batita yang sedang belajar berkomunikasi.


Sumber Gambar : tokopedia


4. Buku Busa

Jenis buku ini terbuat dari eva atau busa dengan dominasi gambar daripada tulisan. Selain ringan, jenis buku busa aman digunakan untuk bayi karena ujungnya yang tumpul dan tak berbahaya.


Sumber Gambar : Dokumen Pribadi

5. Buku Pop Up

Buku Pop up menjadi jenis buku buku 3D yang banyak digemari oleh anak hingga dewasa. Bentuknya yang menarik karena menggambarkan jenis obyek tertentu bisa membuat daya imajinasi anak bertambah. Hanya saja jenis buku ini tidak cocok untuk bayi karena rawan sobek.


Sumber Gambar : Dokumen Pribadi


6. Lift and Flap Book

Bagi anak yang memiliki rasa keingintahuan yang tinggi, jenis buku ini cocok diberikan kepada anak. Biasanya buku jenis ini bisa berupa board Book ataupun buku referensi yang bisa dibaca hingga dewasa.


Sumber Gambar : Dokumen Pribadi


7. Sound Book

Sound Book menjadi jenis buku interaktif yang menarik untuk anak. Biasanya jenis buku ini memiliki jenis suara binatang ataupun jenis lagu anak dengan baterai sebagai sumber energinya.

Sumber Gambar : Dokumen Pribadi



8. Buku Augmented Reality

Buku jenis ini menggabungkan dengan teknologi masa kini yang membuat anak bisa melihat ilustrasi dalam bentuk 4D. Buku jenis ini bisa diberikan kepada anak yang kecanduan gadget dengan harapan anak menjadi lebih cinta pada buku dibanding dengan gadget.


Sumber Gambar : Travel Kompas


Ragam Kegiatan Stimulasi Mengembangkan Rasa Cinta Anak pada Dunia Literasi

Untuk membuat anak bisa membaca, buatlah anak cinta terlebih kepada buku

Agar anak tidak merasa bosan dalam membaca buku, ada baiknya orangtua memfasilitasi ragam buku yang mudah diakses oleh anak. Selain membuat kemampuan dan mengembangkan kognitif anak, dengan membuat anak cinta pada buku, maka saat dewasa kelak anak tidak merasa bosan ketika harus membaca buku dengan halaman yang tebal.

Memang langkah seperti ini membutuhkan proses yang tak instan. Tetapi, orangtua bisa melatihkannya sejak dini. Nah, berikut ini beberapa stimulasi yang saya terapkan kepada anak:

1. Membacakan Nyaring

Membacakan nyaring kepada anak bisa dilakukan sejak anak masih dalam kandungan hingga dewasa. Dengan membacakan buku kepada anak dapat menambah kemampuan literasi anak sejak dini. Ada baiknya ketika membacakan buku kepada anak, orangtua sambil memberikan makna yang tersirat dalam buku, sehingga anak tidak hanya mengetahui isi bacaan buku, tetapi juga anak mampu mengambil Ibroh dari kisah yang sudah dibacakan.


Sumber Gambar : Dokumen Pribadi


2. Mengajak ke Perpustakaan

Perpustakaan merupakan sumber ilmu yang bisa diakses secara gratis oleh masyarakat. Dengan mengajak anak ke perpustakaan akan menambah wawasan anak mengenai beragam jenis buku yang tersedia.

3.  Mengajak Anak ke Bazar Buku


Sumber Gambar : Dokumen Pribadi


Dengan mengajak anak ke bazar buku, orangtua menjadi semakin tahu buku yang anak inginkan. Selain itu, anak bisa berpetualang mencari jenis buku yang disukainya.

Meskipun anak kami masih berusia 4 tahun, banyak manfaat mengenalkan dunia literasi pada anak. Meskipun anak kami belum bisa membaca dan menulis, tetapi ketrampilan membaca dan memiliki adab dalam memperlakukan buku.

Mengenalkan anak pada dunia literasi memang membutuhkan proses yang panjang. Terlebih harus ada kerjasama dengan pasangan maupun anggota keluarga lain untuk saling mensukseskannya.

#SahabatKeluarga
#LiterasiKeluarga

Cek Kesiapan Anak Mulai Sekolah



Hingga saat ini, sekolah masih menjadi primadona orang tua untuk memberikan pendidikan terbaik anaknya. Meskipun sudah ada aturan resmi pemerintah mengenai usia anak masuk sekolah, ada juga beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan orang tua sebelum memasukkan anak ke lembaga pendidikan.

Usia Anak

Usia menjadi salah satu patokan yang paling jelas sebelum memasukkan anak sekolah. Usia yang sudah dijadikan patokan pemerintah bisa dijadikan rujukan agar anak tidak mengalami stres di tahun berikutnya. Selain itu, usia matang anak saat sekolah juga akan membantu perkembangan anak dalam mengambil ilmu di sekolah.

Status Kesehatan 

Selain usia anak, terkadang beberapa sekolah juga mensyaratkan status imunisasi lengkap anak saat balita. Status imunisasi yang lengkap akan membantu menjaga anak dari beberapa penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi. Selain itu, perhatikan kesehatan dan daya tahan tubuh anak. Semakin bertambah usia anak, daya tahan tubuh pun semakin kuat.

Kemampuan Anak

Sekolah bukanlah tempat untuk bersaing. Sebelum masuk sekolah, ada baiknya memastikan kemampuan anak dalam belajar di sekolah. Kemampuan calistung menjadi salah satu kunci anak, terlebih di dalam kurikulum 2013 yang mengharuskan anak lancar calistung. Selain itu, perhatikan pula kemampuan konsentrasi anak.

Karena bagaimanapun, pendidikan menjadi salah satu faktor penting bagi anak.

Kemandirian Anak



Kemandirian anak menjadi salah satu hal terpenting agar anak mampu melakukan aktivitas tanpa memerlukan bantuan orang lain. Memang hal ini terlihat sepele dan banyak diabaikan oleh orang tua, tetapi jika tidak diajarkan sejak dini akibatnya anak akan cenderung menjadi lebih manja dan susah untuk diajak kerjasama dengan orang lain.

Melatih kemandirian anak bisa dilakukan ketika anak sudah terstimulasi motoriknya. Misalnya, ketika anak sudah mulai MPASI dan orang tua lebih memilih finger food. Di sinilah awal latihan kemandirian anak dimulai. Memang terkadang akan menjadi hal yang menyusahkan bagi orang tua, terutama ketika makanan berceceran dan harus ada energi lebih untuk membersihkannya. Tetapi dengan melatih kemandirian anak sejak dini akan sangat berpengaruh pada kehidupan anak kelak saat dewasa.

Bagi orang tua yang ingin melatih kemandirian anak bisa disesuaikan dengan perkembangan anak. Hal ini akan sangat membantu orang tua dan anak serta tak akan membuat anak menjadi stres.

Semangat melatih kemandirian untuk anak 

Kapan Anak Diajarkan Calistung?



Calistung atau Baca, Tulis, Hitung kini menjadi sebuah kurikulum wajib bagi lembaga pendidikan anak usia dini yang sebenarnya tidak boleh diajarkan oleh menteri pendidikan. Nyatanya, meski dilarang oleh menteri pendidikan, banyak lembaga TK yang sudah memasukkan kurikulum calistung untuk mempersiapkan anak mengikuti seleksi masuk SD.

Meskipun banyak lembaga pendidikan yang sudah memasukkan calistung dalam kurikulumnya, ada baiknya kita sebagai orang tua mulai memikirkan kembali apakah anak sudah memerlukan pengajaran calistung di saat mulai duduk di bangku TK.

Pada dasarnya, pendidikan anak usia dini hanya digunakan untuk pengembangan ketrampilan agama, kognitif, sosial, motorik, dan emosional. Meskipun terdapat aspek kognitif, pengajaran mengenai calistung tidak termasuk dalam perkembangan anak usia dini.

Berdasarkan tingkat kematangan otak anak, ada baiknya untuk mengajarkan calistung ketika anak sudah memasuki usia 6 tahun. Akan tetapi, jika anak sudah meminta untuk diajarkan calistung sebelum usia 6 tahun, orang tua bisa memberikan pengajaran calistung dengan cara yang menyenangkan.

Manfaat Membacakan Nyaring untuk Anak



Membacakan nyaring (read aloud) merupakan salah satu cara mengembangkan literasi. Membacakan nyaring kepada anak akan menstimulasi anak dalam membangun kecakapan lisan, kecakapan menyimak, dan kecakapan membaca. Sehingga penting bagi orang tua untuk mengenalkan literasi sejak dini kepada anak. Adapun manfaat membacakan nyaring untuk anak diantaranya:


Membantu Perkembangan Otak
Otak anak tersusun dari jutaan neuron yang tersambung. Agar semakin banyak neuron yang tersambung diperlukan stimulasi dari orang tua, salah satunya adalah dengan membacakan nyaring.

Melatih Kemampuan Dengar Anak
Anak sudah mampu mendengar sejak dalam kandungan. Dianjurkan untuk membacakan nyaring saat anak belum lahir karena saat dalam kandungan anak sudah mulai mengenali suara dari luar.

Menambah Kosakata
Anak mengerti kosakata dari apa yang didengarnya. Semakin banyak kosakata yang didengar, maka perbendaharaan katanya akan semakin banyak.

Melatih Rentang Perhatian
Semakin sering anak dibacakan cerita, semakin baik rentang perhatiannya.

Mengajarkan Arti Kata
Selain membacakan apa yang ada dalam tulisan, orang tua bisa mengajak diskusi anak. Sehingga dapat mengajarkan arti kata anak dan persepsi cerita.

Mengenalkan Konsep Media Cetak
Dengan membacakan nyaring, maka anak juga dikenalkan pada konsep buku yang dibaca. 

Mengenalkan Konsep Gambar
Ada baiknya saat memilih buku untuk dibacakan nyaring pada anak adalah buku dengan gambar lebih dominan. Selain mengenalkan kosakata pada anak, anak juga dikenalkan beragam gambar melalui buku.

Merangsang Imajinasi
Saat anak dibacakan nyaring, anak akan berimajinasi terhadap apa yang didengarnya

Memperkenalkan Konsep Buku
Mengenalkan buku melalui membaca nyaring akan menstimulasi anak suka buku sejak dini.

Mendekatkan Orang Tua dengan Anak
Membacakan nyaring merupakan salah satu aktivitas yang dapat mempererat bonding orang tua kepada anak.

Menjadi Teladan Membaca
Orang tua yang sering membacakan nyaring akan menjadi teladan bagi anak. Sehingga anak akan lebih menyukai kegiatan membaca dibanding dengan aktivitas bermain lainnya.



Belajar Parenting dari Gen Halilintar

Siapa yang tak kenal dengan gen halilintar? Sebuah keluarga yang beranggotakan 13 orang dan terdiri dari ayah (Halilintar Anofial Asmid/ Pak Hali), ibu (Lenggogeni Faruk/ Bu Gen) dan 11 anak (Atta, Sohwa, Sajidah, Thoriq, Abqariyyah, Saaih, Fatim, Fateh, Muntaz, Saleha, dan Qahtan).

Sumber : Instagram @genhalilintar


Meskipun memiliki 11 anak dengan jarak usia 1,5 tahun, tak membuat kedua orangtua ini mengabaikan pengasuhan anak-anaknya. Bahkan ibu Gen tidak memiliki asisten rumah tangga ataupun pengasuh anak untuk membantu aktivitas sehari-harinya.

Sumber : Instagram @genhalilintar


Nah, ternyata ada tips khusus pengasuhan anak ala Pak Hali dan Bu Gen yang membuat seluruh anaknya sukses dan mampu menghasilkan uang sendiri di usia yang masih muda. Hal ini bisa dilihat dari 13 channel YouTube yang dimiliki oleh masing-masing personal, kecuali Bu Gen dan Pak Hali yang memiliki channel bersama (Halilintar Lenggogeni) dan satu channel keluarga yang bernama Gen Halilintar. 

Banyak keluarga Indonesia yang menginspirasi kita untuk melahirkan generasi penerus bangsa yang produktif dan berakhlak. Salah satunya adalah keluarga Gen Halilintar.

Ayah Adalah Pusat Keluarga

Dalam pengasuhan gen halilintar yang memiliki 11 anak ini memiliki sebuah rahasia sukses dalam mendidik anak-anaknya. Salah satu rahasia terbesar adalah seorang ayah harus menjadi pusat sebuah keluarga, sosok idola bagi anak, dan berperan besar dalam seluruh aspek perkembangan anak.

My Family My Team

Bisa dibayangkan dengan 11 anak dengan rentang usia yang tak jauh beda pastinya akan membuat kegaduhan setiap hari. Tetapi apakah hal ini dialami oleh keluarga yang satu ini? Pastinya iya dong, dengan banyak kepala dan banyak keinginan yang ada tak membuat keluarga ini terpecah, justru menjadikan gen halilintar menjadi sebuah tim yang solid. Keluarga ini memiliki jargon bahwa my family my team.

Meskipun tanpa asisten rumah tangga, setiap anggota gen halilintar memiliki tanggung jawab masing-masing pada setiap aktivitas yang dikerjakan. Menariknya setiap jobdesk yang diberikan kepada setiap anak merupakan passion anak. Sehingga anak tidak merasa terbebankan dengan tanggung jawab yang diembannya dan justru menjadi salah satu cara untuk mengembangkan passionnya tersebut. Jadi jangan heran, jika isi channel YouTube antar anak berbeda dengan yang lain karena didasarkan pada passion anak sendiri.

Hal ini tak hanya berlaku saat di rumah, ketika travelling pun keluarga ini tetapi memiliki tanggung jawab seperti halnya di rumah. Jadi meskipun travelling sambil membuat konten, keluarga ini tidak merasa terbebani.

Dalam proses pembuatan buku pun, seluruh pembuatan buku dikerjakan bersama. Ketika Bu Gen selesai menulis, maka anak-anak akan memilih file foto,design, hingga menerbitkan tulisan di sebuah perusahaan percetakan keluarga.

Metode Home Schooling

Meskipun beberapa anak pernah merasakan bangku sekolah formal, tetapi dalam pendidikan yang sesungguhnya keluarga ini menggunakan metode home schooling. Jadi sudah ada jadwal yang didasarkan pada passion anak. Sehingga anak lebih dikembangkan bakatnya dibanding dengan melatih baca tulis.

Dalam hal berbahasa pun, ibu Gen juga memberikan pengajaran tentang bahasa Inggris sebagai bahasa internasional. Tak hanya diterapkan saat anak sudah memahami bahasa ibu, bahkan saat mengandung salah satu anaknya pun ibu Gen sudah mengajarkannya bahasa Inggris, sehingga ketika sudah tumbuh besar anak sudah lancar berbahasa Inggris dan sekarang baru belajar untuk berbicara dengan bahasa Indonesia.

Keluarga High Technology

Berkembangnya teknologi yang cukup pesat inilah yang tidak menutup keluarga ini untuk menjauhkan anak dari yang namanya gadget. Gadget tetap dipakai oleh seluruh anggota keluarga dengan fasilitas internet super cepat yang ada di rumah. 

Meski begitu, penggunaan gadget tetap diarahkan ke hal yang bermanfaat (channel YouTube pribadi). Sehingga anak terus berinovasi dan berpikir kreatif tentang konten yang akan dibuat dan diunggah ke akun YouTube masing-masing. Dan menariknya, setiap anak juga sudah dibekali dengan kemampuan editing video, sehingga dari proses ide konten, pembuatan, editing, hingga proses penggunggahan mahir dilakukan oleh setiap anak. 

Orang tua hanya bertugas sebagai penasehat terhadap ide konten yang akan dibuat anak, dan jika konten yang sudah terlanjur diunggah dan terdapat ketidaksesuaian dengan visi misi keluarga, video akan diminta untuk didelete jika belum mencapai 100 ribu penonton.

Penguatan Pondasi Agama

Agama menjadi hal terpenting dalam kehidupan. Sehingga penanaman konsep agama yang lurus menjadi pilar utama dalam proses pengasuhan anak. Dengan memahami agama secara benar akan menjadi benteng yang kokoh bagi anak sekaligus filter bagi anak.


Sudah Dewasa Tapi Tak Suka Baca, Why?

Perkembangan teknologi yang semakin bertambah pesat, menjadikan semakin berkembangnya teknologi bagi bagi ilmu pengetahuan. Pun dengan sumber ilmu yang dahulunya hanya diakses melalui tatap muka langsung dengan sang guru ataupun melalui buku-buku karyanya.

Sumber Gambar : pustaka pelangi.com


Namun, ternyata perkembangan teknologi tak seimbang dengan jumlah bacaan yang dilahap oleh kaum milenial. Kegiatan sedentary yang cenderung dipergunakan untuk main game, stalking sosmed, ataupun nonton TV menjadi kegiatan luang yang paling banyak menghabiskan waktu sia-sia.

Kebiasaan yang diterapkan saat kecil menjadi salah satu kunci membangun kebiasaan anak suka membaca. Memang terkadang terkesan ganjil, terlebih jika anak belum mampu membaca. Meskipun begitu,orang tua tetap harus menstimulasi kebiasaan membaca anak dengan beragam buku yang kini beragam jenis bukunya.

Membacakan nyaring menjadi salah satu hal yang menjadi pondasi anak untuk mengembangkan kosakata, melatih pendengaran, kemampuan berbicara, hingga nantinya akan melatih kemampuan membaca dan menulis anak.

Pun ketika anak tidak distimulasi sejak kecil. Ketika dewasa kelak, anak menjadi acuh tak acuh pada buku. Bahkan saat masuk bangku sekolah pun banyak anak yang merasa terbebani dan tidak menikmati ketika ada tugas membaca dari gurunya.

Sumber Gambar: wajib baca.com


Membaca tak hanya sekedar menggugurkan kewajiban sebagai seorang pelajar. Dengan membaca, maka banyak ilmu dan hikmah yang bisa diambil. Sehingga akan menambah kapasitas diri dan kemampuan menulis.

Maka tak heran, ketika muncul banyak penulis. Maka bisa dipastikan mereka adalah orang-orang yang suka membaca. Jadi, jangan remehkan membacakan buku pada anak sejak kecil. Karena mengajarkan anak bisa membaca jauh lebih mudah dibandingkan dengan membuat anak suka membaca.


Nussa : Kenalkan Adab Sejak Dini

Kemudahan akses internet yang bisa dilakukan oleh siapapun membuat anak balita pun bisa mengakses dari smartphone orangtuanya. Jika tidak ada filter dari orang tua tentu saja hal ini sangat berbahaya bagi anak. Selain bisa menimbulkan kecanduan, internet juga bisa menghambat tumbuh kembang anak.

Konten yang menjerumuskan anak ke dalam hal  membahayakan dirinya. Sehingga kini terciptalah sebuah animasi yang mengenalkan adab sejak dini.

Nussa



Merupakan animasi buatan Indonesia yang diunggah teasernya pada tanggal 12 November 2018. Tokohnya ada Nussa dan Rara. Tak lupa kucing Nussa pun ikut dalam animasi ini.

Animasi ini diproduksi oleh rumah animasi The Little Giant oleh Mario Irwinsyah dan 4 Stripe Production. Tak hanya animasi saja, ada juga kajian parenting oleh beberapa ustad sesuai dengan tema animasi yang telah diangkat. Jadi tak hanya anak yang belajar, orangtua pun jadi tambah ilmu.

Adab Sebelum Ilmu

Dalam channel Youtube ini lebih menekankan pada pengenalan adab sesuai sunnah Rasulullah. Dikemas dengan animasi yang menarik diharapkan anak lebih suka menonton dibanding dengan menonton tayangan lain di Youtube.

Meskipun baru 4 video animasi, Nussa berhasil menjadi trending Youtube sejajar dengan video gosip yang tetap bertahan. 😁

Dengan adanya tayangan yang berkualitas diharapkan mampu membuat anak Indonesia memiliki adab yang baik sesuai sunnah Rasul.

Mengajak Anak ke Seminar


Sumber : Foto Pribadi


Anak merupakan amanah dariNya yang harus dijaga selayaknya barang mewah. Pun juga selain dijaga dan dirawat, memberikan pendidikan kepada anak harus diutamakan.

Mengajak anak ke tempat umum, selain untuk memberikan pendidikan adab kepada anak. Orang tua juga harus tetap menjaga kemuliaan anak di dapan orang lain.

Mengajak anak ke tempat umum, terlebih ketika orang tua pergi dalam rangka menuntut ilmu harus memiliki berbagai persiapan yang matang. Terutama persiapan membina adab anak sejak dini.

1. Mencari Tahu Apakah Boleh Mengajak Anak Atau tidak
Hal pertama yang harus dilakukan orang tua adalah menanyakan kepada panitia mengenai apakah boleh mengajak anak ke majelis ilmu. Selain untuk meminta ijin, juga agar kemuliaan ilmu yang kita dapat menjadi lebih sempurna.

2. Sounding Anak
Bagi yang mengajak balita, memastikan anak tidak rewel apalagi tantrum merupakan suatu hal yang wajib. Dengan sounding ke anak beberapa hari sampai hari H akan membuat alam bawah sadar anak bekerja. Sehingga risiko anak yang rewel menjadi sedikit berkurang.

3. Pastikan Anak Kenyang
Memastikan anak kenyang sebelum acara dimulai akan sedikit membantu orang tua dalam menyimak materi. Ketika anak kenyang, anak lebih mudah dikondisikan. Dan ketika materi dimulai anak lebih memungkinkan untuk tidur.

4. Bawa Amunisi
Amunisi untuk menenangkan anak ketika berada di tempat umum adalah mainan. Membawa mainan favorit anak akan sedikit mengurangi kebosanan anak ketika ikut orang tuanya.

Selain mainan, membawa buku favorit ataupun buku aktivitas anak akan sedikit mengurangi aktivitas anak aktif, seperti berlarian.

5. Bawa Bekal Makanan
Membawa camilan bahkan makan siang untuk anak sangat diperlukan agar anak tak rewel saat lapar. Dengan adanya camilan kesukaan anak juga akab sedikit mengurangi beban orang tua untuk mengatasi emosi ketika anak rewel.

Karena bagaimanapun menjaga kemuliaan anak lebih penting dibandingkan mendapatkan ilmu apapun.

Berkomunikasi, bukan Menasehati



Komunikasi menjadi salah satu bentuk cara menyampaikan pesan. Tentu saja dalam menyampaikan pesan harus ada komponen komunikasi yang harus dipenuhi. Sehingga pesan yang tersampaikan tidak sekedar masuk telinga kanan dan keluar dari telinga kiri.

Berkomunikasi dengan anak tentu saja harus dengan cara yang santun. Karena bagaimana pun anak adalah amanah dariNya yang harus kita jaga. Tak ada yang namanya, orang tua selalu benar. Karena orang tua juga manusia yang tak luput dari segala dosa. 

Berkomunikasi dengan anak harus dengan cara yang lembut. Karena kelembutan akan menghancurkan kekerasan hati. Seperti air yang mampu melubangi sebuah batu. Karena bagaimana pun anak memiliki hati yang bisa merasakan berbagai macam emosi, termasuk sakit hati, kecewa, dan marah.

Jadi jangan salahkah anak ketika anak dewasa kelak, anak memiliki tabiat seperti orang tuanya. Secara tak sadar anak mengakui kalau tindakannya tak benar, tapi diluar kendali,  anak tak sanggup mengontrolnya.

Komunikasi menjadi kunci orang tua untuk kesuksesan anak. Dengan komunikasi yang efektif, pesan yang ingin disampaikan orang tua ke anak akan masuk dalam pikiran dan anak. Bukan hanya sekedar menjugde ataupun menasehati dengan menganggap diri orang tua itu benar. 

Kenali diri anak, berkomunikasi dengan emosi akan menambah masalah bagi anak. Tahan emosi barulah menarik nafas dan mulai berbicara.

Komunikasi juga harus disertai dengan empati yang tinggi, sehingga secara tak sadar otak anak akan merespon positif setiap apa yang diucapkan orang tua.

*sedang tahap self healing inner child 😢

Menumbuhkan Rasa Nasionalisme Anak



Cinta tanda air merupakan sebagian dari iman. Bahwa selain harus mentaati Allah dan Rasul, seorang muslim juga harus mentaati pemerintah, selagi pemerintah tidak memerintahkan hal yang keluar dari ajaran.

Sikap nasionalisme tidak hanya ditumbuhkan oleh seorang pejuang negara saja, juga tak harus ditunjukkan oleh seorang yang sudah dewasa. Rasa nasionalisme pun harus ditunjukkan oleh anak-anak kita.

Adanya jiwa nasionalisme yang tinggi pada anak tentunya akan sangat berpengaruh terhadap loyalitas anak pada anak. Anak tak sekedar tahu sejarah kemerdekaan Indonesia, tetapi anak juga memahami dan menghormati para pahlawan pejuang kemerdekaan Indonesia.

Bukan tak mungkin anak kita akan menjunjung tinggi negara Indonesia. Melalui kecintaan anak terhadap negara Indonesia, anak menjadi bangga terhadap apa yang dimiliki Indonesia. Serta tidak meremehkan hal sedikit pun tentang Indonesia.

Berbagai macam cara mungkin banyak ditempuh anak melalui pendidikan formal, tetapi kecintaan anak pada tanah air haruslah ditumbuhkan saat anak masih dalam asuhan orang tua.

Keloyalan anak terhadap negara Indonesia tentunya akan berdampak pula pada lingkungan sekitarnya. Anak lebih peka terhadap kondisi yang ada di lingkungannya dan masyarakat pun dapat terpengaruh dari sikap terpuji anak.

Banyak pelajaran yang mungkin diterima anak ketika duduk di bangku sekolah. Berbagai macam teori, sejarah, dan pendidikan moral menjadi kurikulum wajib untuk meningkatkan kecintaan anak pada negara Indonesia. Jika anak hanya mengikuti pelajaran untuk mendapatkan nilai yang baik, tentu beda esensinya jika penumbuhan rasa cinta tanda air di mulai sejak dini.

Mengenalkan sejarah Indonesia bukan hanya sekedar teori yang ada. Tetapi orang tua harus lebih memberikan teladan yang baik untuk anak.  Anak dapat mencontoh perilaku yang baik dari orang tua dan anak mendapatkan esensi nilai yang baik dari perjuangan para pahlawan.

Memperdengarkan lagu-lagu kebangsaan tidak hanya membuat anak hafal, tetapi anak juga harus tahu maknanya, sehingga ketika anak menyanyikan lagu kebangsaan dinyanyikan melalui hati. Anak menjadi bisa menjiwai lagu dan anak tergugah hatinya untuk lebih mencintai negara Indonesia.

Selain anak menjiwai dan memahami makna nasionalisme, yang paling penting anak juga harus menjunjung tinggi nilai-nilai pancasila. Orang tua tetap harus mengarahkan bagaimana seharusnya anak berperilaku yang terpuji. Selain harus mengamalkan nilai pancasila, pastinya jangan sampai melalaikan ketaatan kepadaNya.

Mencintai tanah air tidak hanya untuk menguntungkan diri pribadi saja. Dengan adanya rasa cinta tanah air dalam hati anak harus ditunjukkan dengan prestasi yang bisa mengharumkan nama Indonesia. Tak harus menjadi seorang pahlawan ataupun sang jawara di kancah internasional. Bermanfaat bagi orang lain merupakan salah satu cara yang bisa diajarkan orang tua kepada anak.

Mungkin terdengar sepele jika untuk mengajarkan rasa nasionalisme kepada anak. Karena sudah banyak pelajaran di sekolah.

Tetapi, jika kita melihat apa yang sudah terjadi di negeri ini sungguh miris. Banyaknya oknum yang memanfaatkan sumber daya Indonesia tega menghabisinya hanya demi nafsu sesaat.

Inilah peran orang tua yang harus ditumbuhkan anak sejak dini. Orang tua tak hanya sekedar mendidik anaknya menjadi orang yang sukses, tetapi orang tua harus mengantarkan anak kepada manusia yang beradab. Anak tidak lagi mementingkan urusan pribadinya saja, tetapi anak juga harus mementingkan kepentingan bersama demi terwujudnya kemakmuran Indonesia.

Bagaimanapun anak kita akan menjadi generasi penerus bangsa. Jika tidak kita didik sejak dini, bagaimana dengan nasib Indonesia ke depan.

Anakku Mengompol?



Meskipun di usia 2 tahun syaraf otot springer anus anak sudah matang. Bukan berarti anak bisa terbebas dari masalah ompol. Terkadang secara tidak sadar anak masih mengompol, sehingga membuat ibu marah. Hal inilah yang akan mencederai fitrah anak. Beberapa masalah yang akan timbul ketika anak tercederai:

a. Keras kepala
b. Melakukan sesuatu tanpa memikirkan orang lain (egois)
c. Kikir, karena terdidik menjadi orang yang tidak pernah melakukan kesalahan
d. Anak menjadi malu

Agar anak tidak memiliki sifat-sifat di atas, sudah selayaknya orang tua memberikan respon yang tepat ketika anak mengompol. Sehingga fitrah seksualitas anak dapat dipupuk dan kehidupan seksualitas anak tidak terganggu.

Beberapa tips yang bisa dilakukan ibu ketika anak mengompol:

a. Tidak mengeluarkan emosi negatif

Sebagian orang tua akan merasa sangat kesal ketika mengetahui anaknya mengompol. Kekesalan orang tua akan meluap dengan berbagai manifestasi yang cenderung kepada emosi negatif. Emosi negatif yang sering anak terima akan memberikan manifestasi buruk pada diri anak. 

Anak tidak hanya akan mengalami trauma, anak juga akan memiliki perangai negatif jika hanya ada cercaan pada dirinya. Anak akan mengalami kemunduran mental akibat sering dicerca dan dimarahi. Saat anak ingin buang air, anak cenderung akan malu mengatakan kepada orang tua karena takut dimarahi. Sehingga anak akan mengompol dan hal ini akan terus menerus terjadi pada diri anak karena tidak adanya rasa percaya diri pada anak.

b. Berikan teladan

Memberikan teladan yang baik ketika anak akan buang air menjadi modal awal pembentukan jati diri anak. Selain untuk membentuk rasa percaya diri pada anak, juga akan membantu anak dalam mengenali adab ketika anak buang air.

Memberikan teladan bukan dengan cara anak diikutkan ketika orang tua akan buang air. Tetapi bisa dengan membacakan cerita atau kisah teladan. Ataupun memberikan contoh saat orang tua hendak memasuki kamar mandi sesuai syariat agama. Teladan yang diterima anak akan masuk dan diterima oleh otaknya, sehingga menjadi sebuah sikap dan kebiasaan hingga anak dewasa kelak.

c. Apresiasi anak ketika sudah buang air di tempat yang tepat

Apresiasi yang diterima anak akan mempengaruhi rasa percaya diri yang diterima anak. Saat apresiasi diterima anak, anak akan diakui keberadaannya. Sehingga timbul sikap terbuka, tanggung jawab, dan percaya diri pada anak.

Beberapa ungkapan bisa diberikan kepada anak. Misalnya,
Hebat sekali kamu nak, sudah bisa cebok sendiri di kamar mandi..
Atau
Anakku pintar, besok kalau mau pipis langsung ke kamar mandi ya..

d. Tidak memberikan minuman yang berlebih ketika hendak tidur

Memberikan terlalu banyak minuman kepada anak ketika hendak tidur akan mempengaruhi pola tidur anak karena sering terbangun akibat anak ingin melakukan buang air. Jika anak diberikan minuman manis (seperti sirup atau teh) ketika hendak tidur, anak akan lebih sering melakukan buang air karena kadar glukosa dalam darahnya meningkat. Hingga tak jarang anak akan mengompol di tempat tidur.

Memberikan cukup minuman akan membantu anak dalam proses tidurnya. Air putih menjadi alternatif terbaik minuman yang diberikan kepada anak ketika hendak tidur. Selain itu, jika anak masih belum disapih. Memberikan air putih dapat menjadi pilihan kedua dalam usaha ibu menyapih anak.

e. Membiasakan buang air sebelum tidur/bepergian

Pembiasaan yang dilakukan kepada anak akan membekas di pikiran anak. Sehingga menjadi kebiasaan anak dan akan rutin dilakukan anak. Membiasakan buang air pada anak harus dilakukan sejak dini karena akan terpatri pada diri anak.

Orang tua juga harus memperbanyak diri bersikap sabar kepada anak. Adakalanya anak enggan diajak untuk buang air, sehingga perlu cara jitu untuk meruntuhkan pendirian anak. Orang tua bisa membujuk anak atau berkisah kepada anak. Dan yang terpenting tanpa adanya embel-embel hadiah atau hukuman ke anak.

Sex Education dan Fitrah Seksualitas Anak (part 1)



Pemberian sex education harus dilakukan sejak dini kepada anak. Saat anak lahir di dunia anak sudah memiliki fitrah yang sudah terinstal oleh Sang Pencipta. Sebagai orang tua, pemegang amanah terbesar dariNYA harus menjaga fitrah dan menumbuhkannya sesuai perkembangan usia anak.

Cedera fitrah pada anak akan sangat berpengaruh kepada perkembangan anak ketika telah mencapai masa aqil balighnya. Anak yang tercederai fitrahnya dapat mempengaruhi kehidupan sehari-harinya dan kehidupan sosialnya.

Fitrah seksualitas menjadi salah satu fitrah yang harus ditumbuhkan oleh orang tua sejak dini. Saat fitrah seksualitas tumbuh sesuai dengan perkembangan usia anak, maka saat anak mencapai usia aqil baligh, anak dapat bertanggung jawab terhadap identitas seksual yang telah Allah berikan kepadanya.

Sex education tak hanya memberikan pemahaman kepada anak mengenai kehidupan seksualnya. Dengan sex education juga anak akan belajar tentang aqidah dan keimanan, ibadah, dan juga tentang akhlak. Sehingga kelak anak akan menjadi manusia yang beradab dan jauh dari segala kejahatan dan perilaku seksual menyimpang.

Peran orang tua dalam menumbuhkan fitrah seksualitas anak harus terus dijalankan. Meskipun fitrah akan terlihat dengan sendirinya, orang tua dan lingkungan harus tetap terlibat agar pertumbuhannya baik sesuai dengan tahapannya.

Bagaimana jika fitrah seksualitas anak tercederai?

Pengaruh lingkungan dan kurang pedulinya orang tua terhadap kehidupan seksualitas anak dapat menyebabkan fitrah seksualitas anak terlewat bahkan cedera. Berbagai permasalahan muncul sebagai akibat dari fitrah anak yang tercederai. Sebagai contoh, anak yang tinggal di lingkungan lokalisasi memiliki skema pemikiran bahwa melakukan hubungan seksual di luar pernikahan merupakan hal yang wajar. Sehingga tak jarang anak di lingkungan lokalisasi akan melanjutkan hidupnya sebagai pelaku yang terlibat di daerah lokalisasinya.

Tazkiyatun nafs atau pensucian jiwa menjadi salah satu cara untuk mengembalikan fitrah seksualitas anak yang sudah tercederai. Tazkiyatun nafs bertujuan agar ruh dan hati menjadi lebih bercahaya. Sehingga orang tua yang telah melakukan tazkiyatun nafs akan lebih mudah mengembalikan fitrah seksualitas anak yang tercederai atau menyusulkan fitrah anak yang terlewatkan.

Saat tazkiyatun nafs ini berhasil, akan nampak perubahan yang berdampak pada makin menguatnya rasa optimisme dan rasa rileks sekaligus semangat dalam memperbaiki diri. Sehingga saat tazkiyatun nafs ini berhasil, orang tua dan anak akan merasakan dampak yang positif dalam kehidupannya.

Dengan tazkiyatun nafs yang dilakukan oleh orang tua akan berdampak pada kesadaran orang tua dalam mendampingi dan mendidik anak. Dalam hal ini, sex education menjadi kunci dalam menumbuhkan fitrah seksualitas anak.

Saat proses tazkiyatun nafs ini berhasil, hal yang merasakannya pun tak hanya oleh salah satu orang saja. Selain diri sendiri yang bisa merasakan dampak dari pensucian jiwa ini. Anak juga akan mendapatkan pendidikan yang selayaknya ia dapatkan sesuai dengan perkembangan usia anak. Pasangan pun juga akan merasakan dampaknya. Jiiwa menjadi tenang, lebih bebas dam merdeka, dan tidak takut terhadap apapun selain kepada Allah. Sehingga diri sendiri bisa menghadirkan rasa optimisme dan rileks dan harapaan tertingginya hanya digantungkan kepada Allah.

Tahapan Fitrah Seksualitas Anak dan Cara Pemberian Sex Education

Fitrah seksualitas harus ditumbuhkan sedini mungkin. Bahkan saat anak masih bayi dan belum mampu berbicara dan berjalan, orang tua harus mulai menumbuhkan fitrah seksualitas anak.

Pemberian sex education pada anak harus disesuaikan dengan perkembangan usia anak. Anak yang mengerti dan memahami tentang dunia seksualitasnya akan lebih bertanggungjawab terhadap identitas seksual yang telah diberikan kepadanya. Sehingga penyimpangan terhadap fitrah seksualitas anak dapat dihindari.

Sex Education pada Anak Usia 0-2 Tahun

Jika banyak anggapan bahwa sex education dimulai saat anak menginjak usia baligh, maka anggapan tersebut kurang tepat. Sex education bisa dimulai sejak anak lahir di dunia.

Pada tahap awal inilah pembentukan fitrah seksualitas anak di mulai. Dari tahap awal ini nanti fitrah seksualitas, fitrah keimanan, dan fitrah perkembangan anak mulai terbentuk.

Menyusui, Langkah Pertama Sex Education pada Anak

Menyusui menjadi langkah awal pendidikan seksualitas pada anak. Dengan menyusui, maka fitrah anak mulai terbentuk. Saat menyusui inilah, anak akan merasakan kenikmatan menghisap ASI melalui puting ibu. Di sinilah cikal bakal fitrah seksualitas anak mulai terbentuk.

Menyusui secara langsung selain memiliki beberapa manfaat bagi ibu dan anak juga bisa menumbuhkan fitrah keimanan pada anak. Dengan menyusui langsung, anak belajar mengenal keimanan untuk yang pertama kalinya. Sehingga bisa menguatkan perkembangan fitrah seksualitas pada anak kelak di usia aqil balighnya.

Selain itu, dengan menyusui secara langsung diharapkan anak dapat mengetahui batasan aurat sejak dini. Pada saat menyusui, hanya anak yang disusui sajalah yang diperbolehkan melihat aurat ibu bagian atas. Jika memiliki anak sebelumnya (baca: kakak), sang kakak tidak diijinkan melihat aurat ibu bagian atas dan menyusui hanya dilakukan dan dinikmati oleh ibu dan anak bayinya saja. Sehingga terjalin keintiman hubungan antara ibu dan anak bayinya dan di sinilah bonding anak dan ibu terbentuk.

Penguatan bonding antara ibu dan anak pun mulai tumbuh dengan menyusui secara langsung. Bagi anak laki-laki, bonding akan berpengaruh di usia aqil balighnya, anak laki-laki sudah memiliki cinta pertamanya, yaitu dengan ibunya. Sehingga anak akan terhindar dari bahaya pergaulan dengan lawan jenis hingga kepada terhindarnya anak pada penyakit menular seksual, terlebih khusus penyakit HIV/AIDS. Sedangkan bagi anak perempuan, menyusui secara langsung akan berdampak selain untuk meningkatkan rasa kepuasan anak juga untuk mengajarkan sifat feminin pada anak.

Penguatan bonding ini tidak hanya akan dirasakan saat anak masih berusia dini saja. Penguatan bonding akan berasa ketika anak mencapai usia aqil baligh. Tentunya di sini banyak manfaat yang dirasakan anak dan ibu. Sehingga hubungan birrul walidain antara anak dan ibu akan terjalin hingga ajal menjemput.

Bagaimana jika sang ibu tidak bisa menyusui secara langsung?

Beberapa penelitian terbukti bahwa dengan menyusui, kebutuhan gizi anak dapat terpenuhi. Selain itu, banyak manfaat lain yang bisa dirasakan ibu dan anak.

Menyusui merupakan sebuah kemampuan alami yang dimiliki oleh seorang ibu. Jadi, tidak ada alasan bagi seorang ibu untuk tidak memberikan anugerah dari Allah dengan memberikan susu formula pada anaknya. Secara alami, ASI terbentuk bergantung pada kebutuhan bayi akan ASI (supply on demand). Semakin banyak ASI yang dikeluarkan, maka semakin banyak pula produksi ASI.

Bagi ibu pekerja memberikan ASI perah jauh lebih banyak manfaatnya dibanding dengan memberikan susu formula. Selain produksi ASI bisa terjaga, saat ibu pekerja kembali ke rumah bisa menikmati romantisme dengan anak dengan menyusui secara langsung.