Book Review : Canting



Hadi, seorang anak pengusaha batik mahsyur yang tinggal di kota gudeg menaruh hati pada seorang anak rewang bernama Sekar. Sekar sendiri merupakan gadis lugu yang baru saja menamatkan jenjang  SMA, umurnya sendiri berjarak 10 tahun dari umur Hadi. Sekar dilema apakah harus menerima lamaran Hadi ataukah tidak. Karena wejangan dari simbok, akhirnya Sekar menerima lamaran Hadi dan menikah dengannya.

Nduk, dengarkan simbok. Menikah itu tidak seburuk yang kamu bayangkan. Menikah juga ndak akan membuat cita-citamu jadi hancur. Simbok yakin Den Hadi itu orang baik. Dia pasti bisa membimbing kamu menjadi lebih maju
(Simbok – Canting Part 2)

Seperti kehidupan rumah tangga yang lainnya, kehidupan rumah tangga Sekar dan Hadi mengalami pasang surut. Ditambah dengan kehadiran Ajeng, teman Hadi yang sudah lama menaruh hati kepada Hadi. Ajeng yang masih belum legowo berusaha menarik perhatian Hadi, dan membuat pernikahan Hadi dan Sekar sedikit terganggu. Karena kesabaran Hadi, Sekar menjadi lebih dewasa. Dan membuat Hadi tambah cinta kepada istrinya ini.

Hambatan demi hambatan mereka arungi bersama. Hingga saat gudang batik Hadi terbakar dan Hadi kecelakaan, mereka lalui bersama. Sekar dengan gigih mengelola usahanya dari nol dan Hadi berusaha bangkit dari kondisi ketidaknormalan anggota badannya. Dan Sekar pun berhasil mengalahkan petuah bahwa orang desa ternyata bisa kuliah, dan Sekar mewujudkannya dengan kuliah di Inggris. 

Lalu, bagaimana dengan kehidupan rumah tangga mereka selanjutnya? Apakah akan ada Hadi dan Sekar kecil yang akan mengisi hari-hari mereka?



Saya pun tak sabar membaca kelanjutan kisah Hadi dan Sekar. Begitu banyak kejutan yang disajikan Mbak Fissilmi Hamida dalam setiap bagian ceritanya. Cerita ‘Canting’ ini menyuguhkan hal yang membuat penasaran pembacanya. Bahkan membuat baper para pembaca. Hubungan Hadi dan Sekar mungkin banyak yang mengalaminya, tetapi dalam kisah ini sarat akan makna dan kental dengan budaya Jawa.

Dari nama tokohnya saja sudah kental dengan nuansa Jawa. Ada Hadi, Sekar, Ajeng, Airlangga,  dan Haryo. Panggilan ibu juga akan mengingatkan kita pada zaman Jawa dahulu, dimana ibu biasa dipanggil simbok. Dan untuk kalangan ke atas, biasa dipanggil dengan sebutan kanjeng ibu. Penokohan antar tokoh dibuat sangat pas sesuai kehidupan sehari-hari. Tak ada tokoh yang terlalu sempurna dan tak ada tokoh yang dibuat-buat.

Alur yang disajikan lebih banyak alur maju, sehingga rasa penasaran pembaca di bagian selanjutnya sulit ditebak. Sesekali ada alur mundur, yang akan menjawab beberapa pertanyaan pembaca. Dan ternyata tak ada rahasia yang ditutupi pada kisah ‘Canting’ ini.

Hanya saja, saya kurang terpuaskan dengan latar tempat yang disajikan di cerita ini. Saya membayangkan keindahan kawasan tempat lahir Sekar. Saya membayangkan dalam cerita akan tersuguhkan pemandangan yang bisa dibayangkan. Namun, saya kurang mendapatkan feel dari latar yang disuguhkan.

Tetapi, meskipun saya kurang terpuaskan dengan latar tempatnya. Saya excited dengan beberapa penjelasan budaya Jawa yang tidak saya dapatkan selama ini. Padahal saya asli orang Jawa. Di ‘Canting’ ini saya jadi tahu makna tembang macapat dan makna pakaian pengantin adat Jawa dengan sangat gamblang. Pengetahuan tentang motif batik pun dijabarkan dengan sangat jelas di ‘Canting’ ini. Jadi tidak hanya cerita percintaan saja yang didapatkan, tetapi juga penjelasan ilmu budaya Jawa, dan wejangan dari simbok dan Hadi yang menyejukkan hati.

Membaca ‘Canting’, seolah tak hanya menghabiskan waktu dengan membaca cerita cinta saja. Tetapi juga membaca pengetahuan tentang warisan budaya Indonesia yang harus tetap kita lestarikan.
Bagaimana dengan kamu? Sudahkah kamu membaca ‘Canting’?


#ReviewCantingBlog
#DemamCanting
#NovelCanting
#NovelKMO
#NovelInspirasi

Comments

Popular posts from this blog

Review: Masker Beras Series Byvazo

Wardah Aloe Vera Gel : Satu Gel untuk Semua Kebutuhan

Resensi Buku : The Perfect Husband