Menyikapi Beauty Hacks yang Sedang Tren

Gambar
Di zaman yang serba modern ini, penggunaan teknologi bisa digunakan oleh siapapun. Hanya saja, terkadang banyak disinformasi dari beragam postingan yang tersebar di media sosial.Kemudahan dalam melakukan posting, tanpa ada filter untuk menyaring apapun seringkali menjadikan postingan tersebut trending. Apalagi jika hal yang dilakukan menghasilkan dampak bagi dirinya sendiri. Bukan tak mungkin hal tersebut ditiru oleh orang lain. Hal ini juga berlaku di dunia kecantikan. Banyak hacks di bidang kecantikan yang populer dan ternyata juga diikuti oleh yang lain. Hanya saja, tidak semua hacks yang ada bisa menimbulkan dampak yang baik di kulit wajah kita.Beberapa Contoh Beauty HacksKemudahan mengakses teknologi memunculkan banyak beauty hacks yang dilakukan oleh beauty enthusiast. Biasanya lebih banyak tersebar di Instagram maupun TikTok. Nah, beberapa beauty hacks yang populer di antaranya.Oil plugsBeberapa akhir ini populer dengan hacks mengenai oil plugs. Caranya adalah dengan menggunaka…

Gerakan Peduli Hipertensi untuk Indonesia Sehat




Hipertensi  merupakan penyakit tidak menular yang kini tak hanya diderita oleh orang lanjut usia saja. Bahkan kini, hipertensi sudah ditemukan kasusnya pada anak. Tak hanya membahayakan bagi diri sendiri, kasus hipertensi pada ibu hamil juga dapat berakibat fatal bagi janin yang dikandung.

Dampak dari hipertensi tak hanya merusak jantung saja, tetapi juga organ lain, seperti ginjal dan otak. Bahkan tekanan darah tinggi juga bisa menyerang seluruh organ tubuh yang memiliki alirah darah.

Kalau dilihat dari komplikasi yang ditimbulkan, pastinya sangat berbahaya untuk tubuh. Bahkan, hipertensi termasuk ke dalam penyakit mematikan di dunia. Hal ini tentunya harus dicegah agar penyakit yang termasuk dalam the silent killer ini tidak dapat menyerang diri kita.

Apakah hipertensi dan mengapa disebut the silent killer?

Hipertensi merupakan suatu kondisi dimana tekanan darah dalam tubuh lebih dari 140 mmHg (sistolik) dan lebih dari  90 mmHg (diastolik) pada saat istirahat.

Kondisi ini memungkinkan terjadinya komplikasi dan yang paling sering terjadi, kasus hipertensi sering disandingkan dengan kasus diabetes melitus. Bahkan sekarang, penderita hipertensi juga banyak yang juga menderita covid-19.

Penyakit ini termasuk ke dalam global burden of disease. Hal ini karena seluruh negara di dunia memiliki kasus hipertensi. Dan yang perlu kita ketahui bahwa Indonesia termasuk dalam 5 besar jumlah penderita hipertensi di dunia.

Tingginya kasus hipertensi yang ada di dunia ini karena penyakit ini merupakan penyakit yang tidak memiliki gejala. dr Tunggul G. Situmorang, Sp-PD-KGH, Dipl./M.Med.Si selaku narasumber webinar "Fight Hypertension" yang juga President  Indonesian Society of Hypertension (inaSH) menyebutkan bahwa penderita hipertensi yang sudah merasakan gejala biasanya termasuk hipertensi akut dan sudah parah. 

Hal inilah yang kemudian menjadi sebab mengapa hipertensi disebut sebagai "the sillent killer". Akibat terlambatnya deteksi dini hipertensi membuat terlambatnya penanganan hipertensi. Sehingga banyak kasus hipertensi yang sudah parah dan sulit ditangani, sehingga membuat penderitanya meninggal dunia 

Gejala hipertensi yang biasa dialami penderitanya adalah:

1. Sakit kepala

2. Sakit dada

3. Berdebar-debar

4. Letih

5. Penglihatan kabur

6. Tengkuk sakit

7. Sesak nafas

8. Kepala berputar

Kondisi tersebut dipicu karena beragam penyebab. Adapun faktor risiko yang menjadi penyebab terjadinya hipertensi adalah:

1. Konsumsi garam

Konsumsi garam yang berlebihan ternyata bisa memicu hipertensi. Disarankan untuk tidak mengonsumsi garam lebih dari 2.300 mg dalam sehari.

Nah, ternyata konsumsi garam ini sering tidak kita sadari. Misalnya, saja kita mengonsumsi mie instan. Dari beberapa mie instan yang saya lihat, ternyata  kandungan garam (natrium) yang terkandung melebihi setengah dari jumlah AKG (Angka Kecukupan Gizi). Kalau dalam sekali makan kita sudah menghabiskan 2 bungkus mie, tentunya kita harus memikirkan dampak yang akan terjadi bukan?


Informasi nilai gizi pada kemasan mie instan

2. Usia

Dari data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) tahun 2018 menunjukkan bahwa semakin tinggi usia seseorang ternyata makin besar probabilitas untuk menderita hipertensi. Selain itu, tren hipertensi berubah saat memasuki usia lanjut. Jika pada usia produktif lebih banyak diderita oleh kaum pria, ternyata setelah memasuki menopause, hipertensi banyak diderita oleh kaum wanita.


Sumber : materi webinar

3. Obesitas

Kelebihan berat badan meningkatkan risiko seseorang untuk terkena hipertensi. Jadi, ada baiknya untuk segera menghitung IMT (Indeks Massa Tubuh) ya? Caranya, cukup dengan mengkuadratkan tinggi badan dalam meter dan dibagi dengan berat badan dalam kilogram. Jika hasilnya lebih dari 30, maka termasuk golongan obesitas dan perlu waspada.

4. Genetik

Jika memiliki orangtua yang juga menderita hipertensi, ada baiknya untuk selalu waspada dan sering melakukan pemeriksaan kesehatan.

5. Stres

Jika tubuh dalam kondisi stres akan meningkatkan risiko terjadinya hipertensi. Jadi, ada baiknya untuk mengelola stres ya?

Selain kelima faktor risiko di atas, ternyata ada faktor penyulit lain yang meningkatkan risiko hipertensi, yaitu:

1. Merokok dan minum minuman beralkohol

2. Malas gerak

3. Malnutrisi, baik kurang nutrisi maupun kelebihan nutrisi.

Bagaimana cara mendeteksi hipertensi?

Hipertensi termasuk penyakit yang pemeriksaan termasuk yang paling murah dan cepat. Bahkan beberapa organisasi banyak yang sering mengadakan tensi gratis. Kalaupun tidak menemukan yang gratis, setidaknya untuk melakukan tensi tidak perlu membayar lebih dari 5 ribu rupiah.

Hanya saja untuk melakukan pemeriksaan darah, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

1. Penggunaan alat

Untuk mengukur tekanan darah digunakan tensimeter. Hanya saja, untuk sekarang ini penggunaan tensimeter raksa tidak direkomendasikan karena hasilnya yang kurang akurat dan bisa mencemari lingkungan.

Untuk melakukan pemeriksaan tekanan darah direkomendasikan untuk menggunakan tensimeter digital. Dan sekarang ini, sudah banyak macam tensimeter digital yang digunakan untuk pemeriksaan kesehatan. 

Saat kehamilan kemarin pun saya cukup takjub dengan tensimeter yang digunakan. Hanya dengan memasukkan lengan dan hasilnya akan langsung terbaca beberapa saat kemudian. Hal ini tentunya juga sangat membantu petugas kesehatan, karena akan meminimalisir kesalahan, terutama saat pasien yang dilayani cukup banyak.

2. Sebelum melakukan pemeriksaan

Ada baiknya sebelum melakukan pemeriksaan tekanan darah untuk tidak mengonsumsi obat jenis apapun. Selain itu, hindari merokok dan meminum minuman beralkohol. Hal ini dikarenakan tekanan darah yang diperiksa akan cenderung tinggi, sehingga tidak akurat untuk didiagnosa sebagai penyakit hipertensi.

Selain itu, ada baiknya sebelum melakukan pemeriksaan tidak dalam kondisi yang lelah dan sudah tidur cukup pada malam harinya.

3. Saat melakukan pemeriksaan

Saat dilakukan pemeriksaan tekanan darah, ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

  • Tidak menahan buang air kecil/buang air besar
  • Duduk dengan kondisi rileks dan tidak tegang
  • Tidak mengenakan pakaian yang ketat
  • Tidak diajak ngobrol atau tidak berbicara
  • Ruangan yang digunakan dalam kondisi yang tenang.
Saat dilakukan pemeriksaan, maka akan keluar hasilnya. Pada tanggal 5 Mei 2020 terdapat kesepakatan untuk mendiagnosis hipertensi.

Sumber: materi webinar



Bagaimana cara mencegah hipertensi?


Pencegahan hipertensi bisa dilakukan sejak dini. Pola hidup sehat menjadi kunci untuk terbebas dari hipertensi saat masa tua. 

1. Melakukan aktivitas fisik


Cara paling mudah yang perlu dilakukan adalah dengan melakukan aktivitas fisik. Setidaknya butuh 30 hingga 60 menit dalam 4-7 kali dalam seminggu untuk berolahraga. Hal ini untuk mengurangi risiko obesitas dan menjaga jantung agar risiko hipertensi bisa diminimalisir.

2. Diet seimbang


Nutrisi yang masuk ke dalam tubuh ada baiknya dijaga agar berbagai macam penyakit degeneratif tidak menimbulkan dampak negatif bagi tubuh. Dengan menerapkan menu "Piring Makanku" akan meningkatkan daya tahan tubuh dan menghindarkan tubuh dari risiko penyakit hipertensi.

3. Penggunaan obat-obatan


Penderita yang sudah didiagnosa hipertensi ada baiknya untuk mengonsumsi obat anti hipertensi yang sudah diresepkan dokter. Obat-obatan ini untuk mencegah komplikasi lebih lanjut dari tekanan darah tinggi yang diidap. 

Dokter Tunggul D. Situmorang mengatakan jika hipertensi terjadi pada ibu hamil yang sebelumnya sudah menderita hipertensi untuk tidak diberikan obat anti hipertensi pada trimester pertama. Hal ini untuk mencegah kecacatan ataupun risiko keguguran saat awal kehamilan.

Hanya saja, penggunaan obat-obatan anti hipertensi, ada banyak penderita yang tidak meminum obatnya. Hal ini karena beragam penyebab seperti susah akses obat hingga tidak ada biaya untuk membeli obat.

Lifepack, Solusi untuk Minum Obat dengan Mudah


Perkembangan teknologi semakin mempermudah kita untuk mengakses sesuatu. Seperti untuk menjadi alarm kita saat mengonsumsi obat. 

Lifepack bisa menjadi alternatif pengingat minum obat yang bisa digunakan. Hanya dengan mengunduh aplikasinya di Play Store, kita bisa mendapatkan beragam fitur menarik pada aplikasi.

1. Layanan apotek digital


Dengan adanya layanan apotek digital, kita tidak perlu repot membeli obat ke apotek. Hanya dengan aplikasi Lifepack, kita bisa membeli obat sesuai resep dan bisa langsung diantar ke rumah.

2. Fitur pengingat untuk konsultasi dokter


Aplikasi ini sangat menarik untuk digunakan. Kita akan selalu diingatkan untuk mengunjungi dokter, jika obat sudah habis atau untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. 

3. Kotak obat sekali pakai


Kelebihan dari Lifepack adalah kemasan obat yang diberikan. Jika pada umumnya, obat dibungkus dengan menggunakan plastik per obatnya. Lifepack memberikan kemudahan bagi penggunanya untuk meminum obat.

Sumber : materi webinar


Kotak obat sekali pakai ini diadopsi dari Amerika Serikat untuk memudahkan penderita dalam meminum obat. Konsepnya adalah dengan memasukkan obat sekaligus untuk satu kali minum.

Menariknya, kotak obat dari Lifepack dikemas selama satu minggu. Untuk memudahkan penggunanya, di beri warna di belakang obat untuk memudahkan mengambil obat pada pagi, siang, atau malam. 

Penggunaan kotak obat ini dapat memudahkan lansia dalam minum obat. Meskipun tidak bisa membaca, dengan adanya terobosan ini memungkinkan lansia yang buta huruf untuk meminum obat dengan benar.

Selain itu, penggunaan kotak obat juga bisa digunakan untuk mengontrol atau memantau penderita minum obat. Obat yang tidak diminum akan utuh.

Kalau pengen lebih gampangnya, hampir mirip dengan pil KB ya. Dan ini penampakan kotak obat dari Lifepack.

Materi di atas disampaikan melalui webinar yang diselenggarakan oleh Tribun dengan judul "Fight Hypertension the Silent Killer" pada tanggal 28 Agustus 2020 dengan narasumber :

1. dr Tunggul G. Situmorang, Sp-PD-KGH, FINASIM
2. Natali Ardianto (CEO Lifepack dan Jovee)









Komentar

  1. Serem juga si hipertensi ini ya mbak. Dan aku baru tahu nih kalo ada kotak obat sekali pakai. Memang jadinya kayak minum pil KB ya, intinya nggak boleh lupa, hehe..

    BalasHapus
  2. Padahal kita kalau masak garemnya kadang suka ga kira2 ya udah tambah garem trs gula, eh diicip kurang, tambah lagi. Dan pola ini justru bisa menyebabkan hipertensi jg ya karena konsumsi garam berlebih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mbak. Apalagi kalau tambah penyedap gitu, ada yang kandungannya masih pake garam

      Hapus
  3. Aku selalu wanti-wanti ayahku yang punya hipertensi ini bahwa hipertensi adalah penyakit seumur hidup.Maka hal yang harus dikontrol adalah makanan dan apa saja yang membuat hipertensi itu ketrigger.

    BalasHapus
  4. penderita hipertensi termasuk orang dengan resiko tinggi di masa pandemi corona ini, karena autoimun. Alhamdulillah sudah ada lifepack tapi diharapkan penderita hipertensi juga menjalankan hidup sehat dan menjaga asupan makanan seperti yang mbak anjurkan di atas tadi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, bener mbak. Banyak kasus hipertensi yang kena covid-19

      Hapus
  5. Wah, aku kemarin belum sempat nyimak webinar ini, nungguin rekamannya ah di YouTube-nya. Penasaran karena beberapa orang di keluarga yang biasanya hipotensi pun ternyata jadi hipertensi setelah memasuki usia pensiun, jadi sepertinya ada pengaruh gaya hidup, ya.

    BalasHapus
  6. suami saya nih ada hipertensi karena obesitas, makanya saya pacu diet pakai habbats dan olahraga badminton serta pola makan juga. kadang susah sih emang kalo udah terlanjut kegemukan. tapi ya usaha itu harus ya, biar sehat selalu. makasih mba sharingnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, iya kalau udah obes susah turun sih emang mbak. Diet dan olahraga kudu diatur

      Hapus
  7. ibu mertu saya hipertensi nih, suka gak tega kalo udah kambuh. iya suka pusing sampai ga tahan gitu. akhirnya selalu ke dokter sih.

    BalasHapus
  8. Aku kok juga sering ya sakit di tengkuk, Duhh kok jadi parno masak iya punya hipertensi huhuhu

    BalasHapus
  9. Kebanyakan penyakit kayak gt emang suka tiba2 kerasanya pas udah parah dan kebanyakan udah tua yaaa. Bener2 semasa muda gini jadi kudu bener2 jaga pola makan, pola hidup, dan pola pikir yaa

    ghinarahmatika.com

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rekomendasi Toko Perlengkapan Bayi di Shopee

Review: Masker Beras Series Byvazo

Wardah White Secret Series, Skincare Aman dan Halal